Senin, 19 Maret 2012

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis

A. Pengertian
Sinusitis adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus.

Asuhan-Keperawatan-pada-Pasien-dengan-Sinusitis

B. Etiologi
Rinogen
Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris/paranasalis) yang disebabkan oleh :
Rinitis Akut (influenza)
Polip, septum deviasi
Dentogen
Penjalaran infeksi dari gigi geraham atas
Penyebabnya adalah kuman :
Streptococcus pneumoniae
Hamophilus influenza
Steptococcus viridans
Staphylococcus aureus
Branchamella catarhatis

C. Tanda dan Gejala
Febris, pilek kental, berbau, bisa bercampur darah
Nyeri pada :
Pipi : biasanya unilateral
Kepala : biasanya homolateral, terutama pada sorehari
Gigi (geraham atas) homolateral.
Hidung :
buntu homolateral
Suara bindeng

D. Pemeriksaan Penunjang
Rinoskopi anterior :
Mukosa merah
Mukosa bengkak
Mukopus di meatus medius
Rinoskopi postorior
Mukopus nasofaring
Nyeri tekan pipi yang sakit
Transiluminasi : kesuraman pada ssisi yang sakit
X Foto sinus paranasalis
Kesuraman
Gambaran “airfluidlevel”
Penebalan mukosa

E. Penatalaksanaan
Drainage
Medical :
Dekongestan lokal : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak)
Dekongestan oral  osedo efedrin 3 X 60 mg
Surgikal : irigasi sinus maksilaris.
Antibiotik diberikan dalam 5-7 hari (untk akut) yaitu :
Ampisilin 4 x 500 mg
Amoksilin 3 x 500 mg
Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet
Diksisiklin 100 mg/hari
Simtomatik
Prasetamol, metampiron 3 x 500 mg.
Untuk kronis adalah :
Cabut geraham atas bila penyebab dentogen
Irigasi 1 x setiap minggu (10-20)
Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi)

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis

A. Pengkajian



Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,,
Riwayat Penyakit sekarang : penderita mengeluah hidung tersumbat,kepala pusing, badan terasa panas, bicara bendeng.
Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus, tenggorokan.

Riwayat penyakit dahulu :
Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma
Pernah mempunyai riwayat penyakit THT
Pernah menedrita sakit gigi geraham
Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.

Riwayat spikososial
Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih)
Interpersonal : hubungan dengan orang lain.
Pola fungsi kesehatan
Pola persepsi dan tata laksanahidup sehat
Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping.
Pola nutrisi dan metabolisme
Biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung
Pola istirahat dan tidurSelama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek
Pola Persepsi dan konsep diri Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsepdiri menurun
Pola sensorik
Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).

Pemeriksaan fisik
status kesehatan umum : keadaan umum , tanda viotal, kesadaran.
Pemeriksaan fisik data focus hidung : nyeri tekan pada sinus, rinuskopi (mukosa merah dan bengkak).

B. Diagnosa Keperawatan 
Nyeri : kepala, tenggorokan , sinus berhubungan dengan peradangan pada hidung
Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis(irigasi sinus/operasi)
Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi /adnya secret yang mengental
Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hiidung buntu., nyeri sekunder peradangan hidung
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus
Gangguan konsep diri berhubungan dengan bau pernafasan dan pilek

C. Intervensi Sinusitis
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung
Tujuan : Nyeri klien berkurang atau hilang
Kriteria hasil :
Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang
Klien tidak menyeringai kesakitan.

Intervensi :
Kaji tingkat nyeri klien
R/: Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya
Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya
R/: Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri
Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi
R/: Klien mengetahui tehnik distraksi dn relaksasi sehinggga dapat mempraktekkannya bila mengalami nyeri
Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien
R/: Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien.
Kolaborasi dengan tim medis :
Terapi konservatif :
Obat Acetaminopen; Aspirin, dekongestan hidung
Drainase sinus
Pembedahan :
Irigasi Antral : Untuk sinusitis maksilaris
Operasi Cadwell Luc
R/: Menghilangkan /mengurangi keluhan nyeri klien
Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis (irigasi/operasi)
Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang
Kriteria hasil:
Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya
Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya.
Intervensi :
Kaji tingkat kecemasan klien
R/: Menentukan tindakan selanjutnya
Berikan kenyamanan dan ketentaman pada klien :
Temani klien
Perlihatkan rasa empati(datang dengan menyentuh klien)
R/: Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan
Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan, tenang seta gunakan kalimat yang jelas, singkat mudah dimengerti
R/: Meingkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi untuk penyakit tersebut sehingga klien lebih kooperatif
Singkirkan stimulasi yang berlebihan misalnya :
Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang
Batasi kontak dengan orang lain /klien lain yang kemungkinan mengalami kecemasan
R/: Dengan menghilangkan stimulus yang mencemaskan akan meningkatkan ketenangan klien.
Observasi tanda-tanda vital
R/: Mengetahui perkembangan klien secara dini.
Bila perlu, kolaborasi dengan tim medis
R/: Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien
Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi (penumpukan secret hidung) sekunder dari peradangan sinus
Tujuan : Jalan nafas efektif setelah secret (seous, purulen) dikeluarkan
Kriteria hasil :
Klien tidak bernafas lagi melalui mulut
Jalan nafas kembali normal terutama hidung
Intervensi :
Kaji penumpukan secret yang ada
R/: Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya
Observasi tanda-tanda vital
R/: Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi
Koaborasi dengan tim medis untuk pembersihan sekret
R/: Kerjasama untuk menghilangkan penumpukan secret/masalah


DAFTAR PUSTAKA
Doenges, M. G. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3 EGC, Jakarta 2000
Lab. UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan tenggorokan FK Unair, Pedoman diagnosis dan Terapi Rumah sakit Umum Daerah dr Soetom FK Unair, Surabaya
Prasetyo B, Ilmu Penyakit THT, EGC Jakarta

Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA



Pengertian Otitis media akut
Asuhan-Keperawatan-Pasien-Otitis-Media-Akut

Otitis media akut (OMA)
adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah (Kapita selekta kedokteran, 1999).
Yang paling sering terlihat Otitis media akut ialah :
Otitis media viral akut
Otitis media bakterial akut
Otitis media nekrotik akut
Etiologi Otitis media akut
Penyebab Otitis media akut adalah bakteri piogenik seperti streptococcus haemolyticus, staphylococcus aureus, pneumococcus , haemophylus influenza, escherecia coli, streptococcus anhaemolyticus, proteus vulgaris, pseudomonas aerugenosa.
Patofisiologi Otitis media akut
Umumnya Otitis media akut dari nasofaring yang kemudian mengenai telinga tengah, kecuali pada kasus yang relatif jarang, yang mendapatkan infeksi bakteri yang membocorkan membran timpani. Stadium awal komplikasi ini dimulai dengan hiperemi dan edema pada mukosa tuba eusthacius bagian faring, yang kemudian lumennya dipersempit oleh hiperplasi limfoid pada submukosa.
Gangguan ventilasi telinga tengah ini disertai oleh terkumpulnya cairan eksudat dan transudat dalam telinga tengah, akibatnya telinga tengah menjadi sangat rentan terhadap infeksi bakteri yang datang langsung dari nasofaring. Selanjutnya faktor ketahanan tubuh pejamu dan virulensi bakteri akan menentukan progresivitas penyakit. Otitis media akut
Pemeriksaan Penunjang Otitis media akut
Otoskop pneumatik untuk melihat membran timpani yang penuh, bengkak dan tidak tembus cahaya dengan kerusakan mogilitas.
Kultur cairan melalui mambran timpani yang pecah untuk mengetahui organisme penyebab.  Otitis media akut

Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA)

Pengkajian


Data yang muncul saat pengkajian Otitis media akut :
Sakit telinga/nyeri
Penurunan/tak ada ketajaman pendengaran pada satu atau kedua telinga
Tinitus
Perasaan penuh pada telinga
Suara bergema dari suara sendiri
Bunyi “letupan” sewaktu menguap atau menelan
Vertigo, pusing, gatal pada telinga
Penggunaan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga
Penggunanaan obat (streptomisin, salisilat, kuirin, gentamisin)
Tanda-tanda vital (suhu bisa sampai 40o C), demam
Kemampuan membaca bibir atau memakai bahasa isyarat
Reflek kejut
Toleransi terhadap bunyi-bunyian keras
Tipe warna 2 jumlah cairan
Cairan telinga; hitam, kemerahan, jernih, kuning
Alergi
Dengan otoskop tuba eustacius bengkak, merah, suram
Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan atas, infeksi telinga sebelumnya, alergi
Diagnosa Keperawatan Otitis media akut yang Muncul
Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga Otitis media akut
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pengobatan Otitis media akut
Resiko tinggi injury berhubungan dengan penurunan persepsi sensori
Intervensi Otitis media akut
Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga
Tujuan :
Nyeri berkurang atau hilang
Intervensi :
Beri posisi nyaman ; dengan posisi nyaman dapat mengurangi nyeri.
Kompres panas di telinga bagian luar ; untuk mengurangi nyeri.
Kompres dingin ; untuk mengurangi tekanan telinga (edema)
Kolaborasi pemberian analgetik dan antibiotik
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pengobatan
Tujuan :
Tidak terjadi tanda-tanda infeksi
Intervensi :
Kaji tanda-tanda perluasan infeksi, mastoiditis, vertigo ; untuk mengantisipasi perluasan lebih lanjut.
Jaga kebersihan pada daerah liang telinga ; untuk mengurangi pertumbuhan mikroorganisme.
Hindari mengeluarkan ingus dengan paksa/terlalu keras (sisi) ; untuk menghindari transfer organisme dari tuba eustacius ke telinga tengah.
Kolaborasi pemberian antibiotik Otitis media akut
Resiko tinggi injury berhubungan dengan penurunan persepsi sensori
Tujuan :
Tidak terjadi injury atau perlukaan
Intervensi :
Pegangi anak atau dudukkan anak di pangkuan saat makan ; meminimalkan anak agar tidak jatuh
Pasang restraint pada sisi tempat tidur ; meminimalkan agar anak tidak jatuh.
Jaga anak saat beraktivitas ; meminimalkan agar anak tidak jatuh.
Tempatkan perabot teratur ; meminimalkan agar anak tidak terluka.

Daftar Pustaka
1. Donna L. Wong, L.F. Whaley, Nursing Care of Infants and Children, Mosby Year Book.
2. Efiaty Arsyad, S, Nurbaiti Iskandar, Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan, Edisi III, FKUI,1997.
3. Wong Whaley, Clinical Manual of Pediatric Nursing, Mosby Year Book.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis

  A. Pengertian Meningitis
Asuhan-Keperawatan-Pada-Pasien-Dengan-Meningitis

Meningitis
adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur(Smeltzer, 2001).
Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).
B. Etiologi Meningitis
  1. Bakteri : Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.
  2. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.
  3. Faktor predisposisi : jenis kelamin lakilaki lebih sering dibandingkan dengan wanita.
  4. Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan.
  5. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin.
  6. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan.
C. Klasifikasi Meningitis
Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu :
  1. Meningitis serosa
    Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.
  2. Meningitis purulenta
    Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.
D. Patofisiologi Meningitis
Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas.
Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen; semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.
Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK.
Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.

E. Manifestasi klinis Meningitis
Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK :

  1. Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering)
  2. Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan koma.
  3. Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb :
    • Rigiditas nukal (kaku leher). Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher.
    • Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna.
    • Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan.
  4. Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.
  5. Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tanda-tanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
  6. Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal. Meningitis
  7. Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata.
F. Pemeriksaan Diagnostik Meningitis
  1. Analisis CSS dari fungsi lumbal :
    • Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap beberapa jenis bakteri.
    • Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.
  2. Glukosa serum : meningkat (meningitis)
  3. LDH serum : meningkat (meningitis bakteri)
  4. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil (Meningitis infeksi bakteri)
  5. Elektrolit darah : Abnormal.
  6. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi. Meningitis
  7. MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor. Meningitis
  8. Rontgen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial. Meningitis
G. Komplikasi Meningitis
  1. Hidrosefalus obstruktif
  2. MeningococcL Septicemia (mengingocemia)
  3. Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC,perdarahan adrenal bilateral)
  4. SIADH (Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone)
  5. Efusi subdural
  6. Kejang
  7. Edema dan herniasi serebral
  8. Cerebral palsy
  9. Gangguan mental
  10. Gangguan belajar
  11. Attention deficit disorder.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis

A. Pengkajian Meningitis
  1. Biodata klien Meningitis.
  2. Riwayat kesehatan yang lalu
    • Apakah pernah menderita penyait ISPA dan TBC ?
    • Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ?
    • Pernahkah operasi daerah kepala ?
  3. Riwayat kesehatan sekarang
    • Aktivitas
      Gejala : Perasaan tidak enak (malaise). Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.
    • Sirkulasi
      Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK. Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, taikardi, disritmia.
    • Eliminasi
      Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.
    • Makanan/cairan
      Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan. Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.
    • Higiene
      Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.
    • Neurosensori
      Gejala : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan halusinasi penciuman. Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal, hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif, rigiditas nukal, babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki.
    • Nyeri/keamanan
      Gejala : sakit kepala(berdenyut hebat, frontal). Tanda : gelisah, menangis.
    • Pernafasan
      Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru. Tanda : peningkatan kerja pernafasan. Meningitis
B. Diagnosa Keperawatan Meningitis
  1. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen.
  2. Risiko tinggi terhadap perubahan serebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia.
  3. Risisko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/fokal, kelemahan umum, vertigo.
  4. Nyeri (akut) sehubungan dengan proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi.
  5. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan
  6. Anxietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.
C. Intervensi Meningitis
  1. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen.
    Mandiri : 
    • Beri tindakan isolasi sebagai pencegahan
    • Pertahan kan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat.
    • Pantau suhu secara teratur
    • Kaji keluhan nyeri dada, nadi yang tidak teratur demam yang terus menerus
    • Auskultasi suara nafas ubah posisi pasien secara teratur, dianjurkan nafas dalam
    • Cacat karakteristik urine (warna, kejernihan dan bau)
    Kolaborasi :
    • Berikan terapi antibiotik iv: penisilin G, ampisilin, klorampenikol, gentamisin.
  2. Resiko tinggi terhadap perubahan cerebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia.
    Mandiri : 
    • Tirah baring dengan posisi kepala datar.
    • Pantau status neurologis.
    • Kaji regiditas nukal, peka rangsang dan kejang.
    • Pantau tanda vital dan frekuensi jantung, penafasan, suhu, masukan dan haluaran.
    • Bantu berkemih, membatasi batuk, muntah mengejan.
    Kolaborasi :
    • Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajat.
    • Berikan cairan iv (larutan hipertonik, elektrolit).
    • Pantau BGA.
    • erikan obat : steoid, clorpomasin, asetaminofen.
  3. Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/vokal, kelemahan umum vertigo.
    Mandiri : 
    • Pantau adanya kejang
    • Pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas buatan.
    • Tirah baring selama fase akut kolaborasi berikan obat : venitoin, diaepam, venobarbital.
  4. Nyeri (akut ) sehubungan dengan proses infeksi, toksin dalam sirkulasi.
    Mandiri : 
    • Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata, berikan posisi yang nyaman kepala agak tinggi sedikit, latihan rentang gerak aktif atau pasif dan masage otot leher.
    • Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala agak tingi)
    • Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif.
    • Gunakan pelembab hangat pada nyeri leher atau pinggul.
    Kolaborasi :
    • Berikan anal getik, asetaminofen, codein
  5. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler.
    • Kaji derajat imobilisasi pasien.
    • Bantu latihan rentang gerak.
    • Berikan perawatan kulit, masase dengan pelembab.
    • Periksa daerah yang mengalami nyeri tekan, berikan matras udsra atau air perhatikan kesejajaran tubuh secara fumgsional.
    • Berikan program latihan dan penggunaan alat mobiluisasi.
  6. Perubahan persepsi sensori sehubungan dengan defisit neurologis
    • Pantau perubahan orientasi, kemamapuan berbicara,alam perasaaan, sensorik dan proses pikir.
    • Kaji kesadara sensorik : sentuhan, panas, dingin.
    • Observasi respons perilaku.
    • Hilangkan suara bising yang berlebihan.
    • Validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik.
    • Beri kessempatan untuk berkomunikasi dan beraktivitas.
    • Kolaborasi ahli fisioterapi, terapi okupasi,wicara dan kognitif.
  7. Ansietas sehubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.
    • Kaji status mental dan tingkat ansietasnya.
    • Berikan penjelasan tentang penyakitnya dan sebelum tindakan prosedur.
    • Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.
    • Libatkan keluarga/pasien dalam perawatan dan beri dukungan serta petunjuk sumber penyokong.
H. Evaluasi Meningitis
Hasil yang diharapkan :
  1. Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain.
  2. Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik, mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil.
  3. Tidak mengalami kejang/penyerta atau cedera lain.
  4. Melaporkan nyeri hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.
  5. Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan.
  6. Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi.
  7. Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang dan mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi.

DAFTAR PUSTAKA

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis

Doenges, Marilyn E, dkk.(1999).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa, I Made Kariasa, N Made Sumarwati. Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester, Yasmin asih. Ed.3. Jakarta : EGC.
Harsono.(1996).Buku Ajar Neurologi Klinis.Ed.I.Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Smeltzer, Suzanne C & Bare,Brenda G.(2001).Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.Alih bahasa, Agung Waluyo,dkk.Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester.Ed.8.Jakarta : EGC.
Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998.
Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994.
Long, Barbara C. perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Bandung : yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan; 1996.

Selasa, 13 Maret 2012

Mengenal Dan Manfaat Pohon Turi



Turi (Sesbania grandiflora) banyak ditemukan di daerah pedesaan. Di Indonesia banyak dimanfaatkan sebagai ‘paru-paru kota’ dan sebagai lalapan. Ya, bunga turi sering digunakan sebagai sayuran pelengkap pecel. Bunga turi dapat membantu memperlancar ASI ( Air Susu Ibu ) dan mengatasi gangguan buang air besar. Selain itu juga dapat melembutkan kulit. Bunga turi ada yang berwarna merah dan ada yang berwarna putih. Kandungan senyawa bunga turi merah lebih banyak.



Apa saja senyawa yang terdapat dalam bunga turi ?

1.      Karbohidrat
2.      Protein
3.      Lemak
4.      Mineral kalsium, fosfor, besi, natrium, kalium
5.      Vitamin B1, B2, B6, C dan beta karoten
Biji turi yang tua, setelah dikeringkan, direbus dan diberi ragi dapat digunakan sebagai bahan baku tempe.
Di India, daun turi digunakan sebagai obat.



Efek farmakologis daun turi adalah

a.       Mencairkan gumpalan darah.
b.      Mempunyai efek diuretic
c.       Menghilangkan sakit

Oleh karena itu daun turi dimanfaatkan untuk :


1.    Mengatasi radang tenggorokan
Cara :
Rebus satu genggam pucuk daun turi dalam 3 gelas air sampai menjadi 1 gelas. Setelah disaring dalam keadaan hangat air rebusan dapat digunakan untuk berkumur minimal 3 x sehari.

2.    Menyembuhkan luka yang tidak terlalu dalam
Cara :
Tumbuk daun turi yang sudah di cuci dan tempelkan di atas luka yang sudah dibersihkan terlebih dahulu. Agar terjaga kebersihannya, ramuan itu perlu diganti paling sedikit 3 x sehari.

3.    Mengatasi batu ginjal
Catatan :
Pemberian jus turi pada tikus dapat mengatasi batu ginjal yang komposisinya terdiri dari kristal kalsium oksalat.
*kira-kira untuk manusia sudah pernah diuji coba belum ya?

4. Bersifat antioksidan
Berdasar penelitian daun turi mentah atau dipanggang memiliki kandungan beta karoten dan vitamin A. Untuk mendapat manfaat maksimal disarankan mengonsumsi daun turi 2 – 3 x seminggu sebanyak 1 piring kecil.

5. Mengatasi keputihan
Cara :
Segenggam daun turi putih & kunyit sebesar ibu jari dicuci dan digiling halus. Tambahkan ¾ cangkir air matang lalu aduk merata. Selanjutnya ramuan ini diperas & disaring. Ramuan siap diminum. Lakukan 2x sehari.

6.    Memperbanyak produksi ASI
Cara:
Daun turi muda dikukus & dimakan sebagai lalap.

7.    Meredakan demam nifas
Cara:
Daun turi 1/3 genggam dicuci bersih & digiling halus. Tambahkan ¾ cangkir air matang & sedikit garam. Setelah diperas & disaring, ramuan siap diminum.

Di India, kulit batang turi juga dimanfaatkan sebagai obat sariawan.
Cara :
Rebus satu genggam kulit batang turi dalam 3 gelas air sampai tinggal 1 gelas dan dipakai untuk berkumur.

Efek farmakologis dari kulit batang adalah:
a.       Mengurangi rasa sakit (analgetik)
b.      Penurun panas

Kegunaan kulit batang turi yang lain adalah :

1.Mengobati scabies
Cara:
Kulit batang ditumbuk halus & dioleskan pada bagian yang terkena scabies.

2.     Meredakan disentri
Cara:
Rebus kulit batang dengan 2 gelas air bersih hingga tersisa 1 gelas. Setelah larutan dingin, saring & minum. Lakukan 2 x sehari.

3.    Mengobati cacar air & demam dengan erupsi kulit
Cara :
Kulit batang sebesar ibu jari direbus dengan air secukupnya. Setelah dingin, disaring dan diminum.
Di bagian atas telah disebutkan sekilas bahwa di Indonesia bagian pohon turi yang sering dimanfaatkan adalah bunganya yaitu sebagai lalapan. Konsumsi bunga turi sangat bermanfaat bagi para ibu yang sedang menyusui karena dapat  memperbanyak dan memperlancar ASI.




Efek farmakologis bunga turi:

a. Pelembut kulit
b. Pencahar
Ternyata akar turi pun juga bermanfaat untuk kesehatan yaitu untuk mengatasi pegal linu
Cara :
Akar turi (berbunga merah) digiling halus. Tambahkan air sehingga adonan menyerupai bubur. Gosokkan adonan tersebut pada bagian tubuh yang linu.
Turi juga dapat meredakan sakit kepala lho. Simak resep tradisional berikut ini :

Bahan :
Satu genggam daun turi
Tujuh biji turi (polong)
Tujuh biji lada
Bawang putih
Satu sendok makan cuka
Cara :
1. Tumbuk biji & daun turi serta lada & bawang putih hingga halus.
2. Masukkan cuka dan aduk hingga rata
3. Oleskan ramuan tersebut pada kening
Banyak juga ya manfaat pohon turi beserta bagian-bagiannya. Sekarang kita jadi tahu bahwa turi bukan hanya pohon peneduh jalan / paru-paru kota saja. Namun ada banyak manfaat yang lainnya.
Selamat Mencoba…

Sumber: Trubus

Manfaat Belimbing Wuluh


Belimbing Wuluh


Nama latinnya adalah Averhoa bilimbi
Oleh masyarakat biasanya belimbing wuluh ini digunakan sebagai sirup, manisan, salad, penyedap sayur, pelengkap kuliner laut, dan pencampur sambal dan saus. Masyarakat Aceh mengolah belimbing wuluh menjadi penyedap rasa yang disebut asam sunti. Air sisa pembuatan asam sunti lalu dimanfaatkan sebagai pengawet ikan dan daging. Cairan dan perasan buahnya sering dipakai untuk membersihkan benda yang terbuat dari kuningan, serta membersihkan noda di kaca atau keramik.
Efek herbalnya sendiri, belimbing wuluh ini bisa mengurangi rasa sakit (analgesic), memperbanyak pengeluaran racun empedu, antiinflamasi, peluruh kencing, astringent. Buahnya bisa bersifat antiradang, analgesic, antipiretik, hipoglikemik. Dan daunnya bekerja sebagai antipiretik.
Air perasan buahnya bisa mengempiskan jerawat, menghilangkan panu, dan mengecilkan pori-pori kulit. Buahnya bisa digunakan untuk mengobati gusi berdarah, menyembuhkan sariawan, dan meredakan sakit gigi. Daunnya bisa digunakan sebagai obat rematik.
Senyawa aktif yang ada di batang belimbing wuluh adalah saponin, tannin, calcium oksalat, sulfur, asam format, peroksidase. Pada daunnya mengandung tannin, sulfur, asam format, peroksidase, calcium oksalat, kalium sitrat. Dan buah mengandung ascorbic acid, niacin, riboflavin, carotene, thiamine, kalsium, zat besi, serat dan protein.
Beberapa studi penelitian menunjukkan pengaruh belimbing wuluh untuk obat hipertensi.

Adapun resep-resep tradisional yang bisa digunakan adalah…..sebagai berikut :


Hipertensi
Belimbing wuluh 3 buah dicuci bersih lalu dipotong-potong kemudian direbus dalam 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas. Angkat dinginkan, lalu saring. Minum setiap pagi setelah makan


Gangguan kulit
Daun belimbing wuluh secukupnya dicuci bersih. Lalu ditumbuk hingga halus dan dioleskan/ditapal pada kulit yang mengalami gangguan (gondongan, jerawat, atau panu). Ulangi beberapa kali.


Batuk
Bahan :
Bunga belimbing wuluh 20-25 kuntum
Rimpang temugiring 1 jari
Kulit kayu manis 1 jari
Kencur 1 jari
Bawang merah 2 butir
Pegagan ¼ genggam
Daun saga ¼ genggam
Daun ingu ¼ genggam
Daun sendok ¼ genggam
Cara membuat :
Semua bahan dicuci bersih, lalu dipotong kecil-kecil. Rebus dalam 5 gelas air hingga tersisa setengahnya. Angkat dinginkan lalu saring, bisa ditambahkan madu. Minum 3 kali sehari 3/4 gelas.


Sariawan
Bahan :
Bunga belimbing wuluh 20 gram
Asam jawa 5 gram
Daun asam jawa 5 gram
Daun jinten 10 gram
Gula aren secukupnya
Cara membuat :
Semua bahan kecuali gula aren direbus dalam 1 liter air hingga tersisa setengahnya. Angkat, dinginkan dan saring. Masukkan gula aren. Sebelum diminum, berkumurlah dengan ramuan sehingga luka pada mulul terkena ramuan. Lakukan 2 kali sehari.
Semoga Bermanfaat….^_^


Sumber: Trubus

Manfaat Ciplukan (Cecendet)

Manfaat Ciplukan (Cecendet)
 
Di Jawa buah ini terkenal dengan nama Ciplukan sedangkan di daerah Sunda lebih terkenal dengan nama Cecendet. Tanaman yang memiliki nama Latin Physalis peruviana sering ada di pekarangan depan rumah. Walaupun tampak sederhana tanaman ini memiliki khasiat herbal yang sangat berguna bagi kesehatan kita.
Bagian yang biasanya digunakan sebagai herbal adalah akar, daun dan buah
Efek herbal yang dimiliki tanaman ini adalah antiinflamasi, analgesic, dan antiseptic.
Akar ciplukan berkhasiat sebagai obat cacing dan penurun demam. Daunnya digunakan untuk menyembuhkan patah tulang, busung air, bisul, borok, penguat jantung, keseleo, nyeri perut, dan kencing nanah. Buah ciplukan sendiri sering dimakan oleh anak-anak kecil, buahnya bermanfaat untuk mengobati epilepsy, buang air kecil yang tidak lancer, dan penyakit kuning.
Senyawa aktif yang dikandung oleh tanaman ini adalah saponin, flavonoid, polifenol dan fisalin. Di batang dan daunnya mengandung fisalin B, fisalin D, fisalin F, dan withangulatin A. bijinya mengandung 12-25% protein, 15-40% minyak lemak dengan komponen utama asam palmitat dan asam stearat. Di dalam akar terkandung alkaloid. Di daun ada glikosida flavonoid. Di tunas terkandung flavonoid dan saponin. Lainnya adalah asam sitrun, asam malat, tannin, kriptoxantin, dan vitamin C.
Senyawa aktif dalam ciplukan bekerja menekan produksi kelenjar tyroid. Senyawa aktif tersebut bekerja dengan cara mempengaruhi hormon hipotalamus dan pituitary. Akibanya TSH (Tyroid Stimulating Hormone) dapat ditekan. Jika TSH berlebih dapat menyebabkan Hipertyroid.
Resep tradisional yang bisa dipakai di rumah

Hipertiroid
Tanaman ciplukan setinggi 50 cm ambil 3 buah, cuci bersih dan rebus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas. Minum ramuan 1 kali sehari. Ulangi setiap 2 hari sekali.

Diabetes
Tanaman ciplukan 12-15 gram di cuci bersih, lalu di rebus dalam 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas. Angkat saring, dan dinginkan. Diminum 2 kali sehari.
Sumber Trubus

Minggu, 12 Februari 2012

Berkecukupan

BERKECUKUPAN


Dikisahkan ada seorang petani yang hidup sendiri disebuah rumah yang sederhana. Istrinya telah lama berpulang ke Rahmatullah, sedangkan anak-anaknya, masing-masing telah berumahtangga. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari selain ia bekerja sebagai seorang petani bayaran, ia juga merawat kambing-kambing milik tetangganya.

Setelah menunaikan shalat Subuh dan mereguk secangkir teh hangat, berangkatlah sang petani ke sawah. Kemudian setelah menunaikan shalat Dzuhur dan beristirahat sambil melahap sepiring nasi, lalapan, sambal dan sepotong ikan asin, kembali ia meneruskan pekerjaannya di sawah. Ketika terdengar adzan Ashr berkumandang, bergegaslah ia pulang, membersihkan tubuh dan menunaikan shalat Ashr. Tanpa sempat beristirat, ia langsung memberi makan kambing-kambing tetangganya, lalu dilanjut dengan membersihkan kandangnya. Barulah Maghrib ia pulang dan shalat. Setelah menunaikan shalat Isya ia tidur. Begitulah setiap hari kegiatan sang petani.

Tanpa disadari sang petani, beberapa tetangganya ternyata memperhatikan dirinya. Pasalnya, setiap kali ia shalat berjama'ah di Masjid, pakaian yang dikenakannya hanyalah koko hijau dan sarung yang sudah pudar warnanya dan bila shalat Jum'at ia mengenakan koko putih dan sarung yang juga sudah lusuh.
Ketika ada pertemuan dibalai desa atau ada hajatan warga, ia mengenakan salah satu dari koko yang ia pakai untuk shalat tadi.

Melihat hal tersebut para tetangga sang petani bersepakat ingin memberikan hadiah sebuah kemeja batik, dengan harapan, semoga sang petani dapat terlihat layak bila menghadiri acara dibalai desa maupun bila menghadiri hajatan warga.

Waktupun berlalu, para tetangga terus memperhatikan kehidupan sang petani. Mereka melihat kemeja batik yang diberikan ternyata jarang sekali dipakai sang petani, sekalipun di balai desa maupun hajatan. Tergelitik keinginan tahuan mereka, kemudian mereka bertamu kerumah sang petani. Terlihat kemeja batik tergantung dengan rapih di pojok ruang rumah sederhana itu. Salah satu dari mereka bertanya, "Pak, kemeja batiknya masih bagus ya, seperti baru."
"Begitulah saya menghargai pemberian orang, pak", jawab sang petani.
"Tetapi kenapa jarang dipakai? Kan bapak kelihatan gagah kalau dipakai, apalagi kalau ada acara dibalai desa maupun hajatan", sahut yang lain.
"Sebenarnya saya telah merasa berkecukupan dengan pakaian yang saya miliki, rencananya kalau memang benar-benar sudah tidak layak, barulah saya akan sering memakai kemeja batik ini", jelas sang petani dengan tersenyum.
Tetangganya pun mengangguk-angguk berusaha memahami.
"Lagian pak, sebenarnya kehadiran saya kan yang lebih diharapkan, bukan dari pakaian yang saya kenakan", tambah sang petani lagi.




Walau terasa janggal sikap sang petani, namun ada suatu hikmah yang bisa kita ambil dari kisah ini. Yaitu rasa menghargai dan rasa berkecukupan dari dirinya. Ia tidak lagi tergoda dengan silaunya dunia, apa yang dimilikinya telah dirasa cukup dan disyukurinya. Justru dengan kesederhanaannya itu, telah menambah nilai muhasabah dirinya kepada sang Khalik. Bisakah kita seperti sang petani tersebut?


Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali-`Imraan: 14)